Mengampuni dan Mengingat

Kejadian 45:1-15

“Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati…, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.”
(Kej. 45:4-5)

 Film “Amish Grace” berkisah tentang komunitas Amish di Nickel Mines, Pennsylvania yang memberikan respons pengampunan terhadap pelaku dan keluarga atas suatu tragedi yang mereka alami pada tanggal 2 Oktober 2006, ketika seorang bernama Charles Carl Roberts IV membawa senjata dan menembaki sekolah milik komunitas Amish dan mengakibatkan lima orang anak perempuan meninggal dan lima lainnya menderita luka berat. Dalam film ini, ada satu kutipan kalimat yang menarik, “pengampunan bukan melupakan, juga bukan membiarkan.”

Sebagai petinggi di tanah Mesir, Yusuf punya kesempatan membalaskan dendamnya atas tindakan saudara-saudaranya di masa lalu yang tega menjualnya ke Mesir. Namun, Yusuf justru meminta saudara-saudaranya untuk tidak bersusah hati maupun menyesali diri. Mengapa? Karena Yusuf tidak lagi melihat perlakuan saudaranya sebagai tragedi melainkan sebagai cara Allah memelihara kehidupan Israel dari bencana kelaparan. Menariknya, Yusuf tidak melupakan peristiwa itu (ay. 4). Yusuf memperkenalkan diri dan menyebut bahwa ia dijual ke Mesir. Yusuf dapat mengampuni saudara-saudaranya ketika ia melihat tragedi itu dengan kacamata yang berbeda: Allah memelihara kehidupan.

Jika kita dilukai dengan mendalam, belajarlah untuk mengingat peristiwanya sebagai pengalaman berharga, namun lihatlah dengan kacamata yang berbeda. Dari sudut pandang Allah yang selalu merancang kebaikan.

DOA :
Tuhan, jika orang lain melukaiku, aku mau mengingat peristiwanya sebagai pengalaman berharga dengan kacamata yang berbeda. Amin!
Mzm. 36; Kej. 45:1-15; Kis. 7:9-16

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/wasiat/