Keluar Dari Zona Nyaman

Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa.
(Mrk. 5:1)

Injil yang kita baca sebagai penutup bulan Januari ini dimulai dengan kedatangan Yesus di daerah seberang danau. Wilayah itu disebut sebagai pemukiman orang Gerasa. Setibanya di daerah itu, bukan tarian sambutan yang diterima Yesus dan para murid-Nya, melainkan suasana mencekam. Pasalnya, ada seorang yang kerasukan setan dengan kekuatan dahsyat menghadang rombongan Yesus. Bahkan, roh-roh jahat yang begitu banyak yang bercokol dalam diri orang itu tahu siapa Yesus, yaitu “Anak Allah Yang Mahatinggi!” Singkatnya, legion itu berhasil diusir Yesus, mereka masuk ke dalam kawanan babi, dan terjun ke dalam danau.

Tentunya Yesus bersama-sama murid-Nya menyeberangi danau itu bukan untuk piknik, melainkan untuk memasuki wilayah orang najis. Mereka berjumpa dengan orang yang dirasuki oleh roh najis, di tengah-tengah orang yang mengerjakan pekerjaan yang dianggap haram (beternak babi). Yesus dan murid-murid-Nya tidak sekadar melewati batas wilayah, kultur, dan keyakinan yang berbeda dari agama Yahudi, tetapi juga menghadirkan karya keselamatan Allah di tempat itu.

Belajar dari Yesus, setiap murid Tuhan yang mau memberitakan karya pembebasan Allah mestinya harus siap untuk meninggalkan zona nyaman. Zona nyaman itu bukan hanya wilayah fisikal, tetapi juga wilayah psikologis dan kultur budaya. Sudahkah kita mewartakan Kabar Baik sampai “ke seberang”?

REFLEKSI:

Menghadirkan Kabar Baik selalu menantang kita untuk berani keluar dari zona nyaman.
Mzm. 35:1-10; Yer. 29:1-14; Mrk. 5:1-20

Sumber : Wasiat, 31 Januari 2018; https://www.ykb-wasiat.org/wasiat/