Ketika Impian Tak Terpenuhi

 

“Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku.”
(Ul. 3:26)

Pada awalnya Musa banyak mengelak dari panggilan Tuhan. Namun, pada akhirnya setiap generasi Israel mengakui bahwa Musa adalah figur yang sungguh-sungguh membela Israel. Beberapa kali Musa berani pasang badan agar Tuhan tidak murka dan membinasakan Israel. Tak pelak lagi Musa adalah pejuang Israel sejati.

Salahkah bila seorang pejuang sejati mempunyai impian dapat menginjakkan kaki di tanah yang dijanjikan Allah itu? Berlebihankah jika ia dapat menghirup udara dan bau tanah yang kelak akan didiami oleh anak cucunya? Rasanya itu manusiawi dan wajar! Namun, Tuhan mengatakan tidak. Tuhan berfirman kepadanya, “Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku” (ay. 26). Kemudian Musa diperintahkan naik ke puncak gunung Pisga. Di sana, ia melayangkan pandangannya ke segala penjuru negeri seberang Yordan. Ternyata benar janji Tuhan akan sebuah negeri yang subur makmur itu!

Alih-alih memenuhi mimpi Musa, Tuhan meminta kepadanya untuk menyiapkan pengganti dirinya, yaitu Yosua. Di sinilah kebesaran hati Musa teruji. Ia tidak marah. Ia tetap setia dan menyiapkan pemimpin baru bagi Israel. Mungkin saat ini impian kita belum terpenuhi. Mari belajar dari Musa untuk berbesar hati. Pasti Tuhan mempunyai rencana yang lebih besar untuk kebaikan kita dan orang lain yang terkait dengan kita.

 

REFLEKSI:

Tetap percaya kepada Tuhan manakala harapan tidak terpenuhi jauh lebih baik ketimbang marah dan menyalahkan Tuhan.
Mzm. 111; Ul. 3:23-29; Rm. 9:6-18

 

Sumber : Wasiat, 25 Januari 2018; https://www.ykb-wasiat.org/wasiat/

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better