Terpujilah Wahai Guruku

TERPUJILAH WAHAI GURUKU

“terpujilah wahai engkau ibu-bapak guru
namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
semua baktimu akan kuukir didalam hatiku
sebagai prasasti terimakasihku tuk pengabdianmu”

Guru adalah salah satu penentu arah peradaban bangsa dalam memajukan dan meningkatkan mutu sumber daya manusia di suatu negara agar generasi bangsa bisa produktif dan bersaing. Generasi bangsa yang tangguh, pantang menyerah, inovatif dan kreatif serta memiliki moralitas yang baik adalah syarat untuk dapat memenangkan persaingan global.

“Pembelajaran zaman now yang menyenangkan dengan sumber informasi yang melimpah diharapkan tidak menjadi penghalang bagi guru dan murid untuk saling berinteraksi.

Proses interaksi guru dan siswa setidaknya dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu :

  1. Kesenjangan antar generasi

Disadari atau tidak disadari, seringkali seorang guru menggunakan referensi masa lalu (yang mungkin terlihat berhasil) dalam menanamkan ilmu dan karakter terhadap peserta didik.  Kondisi ini, sangat mungkin menimbulkan ketegangan interaksi antara guru dengan siswa, jika cara yang digunakan tidak diadaptasikan dengan karakreristik generasi siswa saat ini. Model dialog dan diskusi adalah salah satu model yang diharapkan mampu menjembatani perbedaan lintas generasi. Model dialog dan diskusi, terutama dalam pembentukan karakter siswa tidak dengan mudah diterapkan oleh seorang guru, sebab keberhasilan model ini baru dapat diamati dalam jangka waktu yang panjang.  Meskipun demikian, seorang guru dapat mengontrol setiap proses model ini, sehingga ditemukan perubahan positif dari seorang siswa secara bertahap (gradual).

  1. Kemajuan teknologi

Kemajuan teknologi digital merupakan 2 sisi mata uang yang berlawanan.  Kemajuan ini dapat menjadi positif, apabila digunakan secara kreatif sebagai media interaksi guru dan siswa.  Berbagai macam kreasi digital seperti Video Blogger (Vlog), animasi, meme internet dan e-commerce, dapat digunakan sebagai media belajar secara positif.

Peran seorang guru adalah mendorong dan memfasilitasi kreasi digital untuk pembelajaran dan penanaman karakter siswa, sehingga media social tidak sebagai sumber bullying dan sumber ujaran kebencian (hate speech)

  1. Dinamika masyarakat

Pro-kontra tentang cara yang efektif dalam membentuk karakter siswa, seringkali kita dengar dan amati terjadi di masyarakat.  Bahwa kecenderungan masyarakat saat ini, menginginkan pendidikan tanpa kekerasan (baik verbal/ fisik).  Kondisi ini seringkali membuat dilematis bagi seorang guru untuk menamankan karater positif ke siswanya, bahwa tujuan yang mulia harus sejalan dengan cara yang mulia.  Pendekatan secara psikologis dan modelling adalah salah satu cara positif yang efektif untuk guru dapat menanamkan nilai-nilai karakter ke siswa.

  1. Tuntutan jaman

Beberapa tahun kedepan, saat siswa kita menyelesaikan proses pembelajaran, banyak lapangan kerja saat ini yang akan hilang dan berganti dengan jenis lapangan kerja baru.  Menyiapkan perubahan kemampuan bukanlah tugas yang ringan bagi seorang guru.  Model pembelajaran kehidupan (life skill learning) merupakan salah satu cara yang menggunakan data dan fakta kehidupan jaman ini untuk memprediksi peluang jaman yang akan datang (metakognisi).  Model ini memungkinkan seorang guru menanamkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis dan kreatif  alam setiap proses pembelajaran di ruang-ruang kelas, sehingga siswa mampu menangkap peluang-peluang pekerjaan di jaman yang akan datang.

Menjadi seorang guru mulia, tidak hanya sekedar kata-kata, tetapi melahirkan sebuah karya.  Karya seorang guru akan tercipta saat guru mampu menginspirasi siswa untuk berubah secara positif. Hasil karya guru dapat dilihat dari perubahan ilmu dan karakter positif pada diri seorang siswa.

 

Boanerges Tiberias, M.Si.
Kepala SMAK 2 PENABUR

 

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better