Pasangan Yang Kompak

Dengan setahu istrinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
(Kis. 5:2)

Masih ingat kasus vaksin palsu yang menghebohkan pada pertengahan tahun 2016? Berbekal pengalaman kerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit dan tergiur keuntungan besar, sepasang suami istri nekad membuat dan mengedarkan vaksin palsu. Mereka tidak peduli apa akibat dari perbuatan mereka itu. Pasangan suami istri itu kompak dalam melakukan tindakan jahat.

Ananias dan Safira juga pasangan suami istri yang kompak. Mereka sepakat menjual sebidang tanah dan hasil penjualannya itu diserahkan kepada rasul-rasul untuk menunjang pekerjaan Tuhan. Namun sayang, mereka menahan sebagian uang hasil penjualan tanah itu. Pasutri itu bisa jadi ingin dipandang sebagai murid-murid Tuhan yang saleh dan dermawan. Namun, hati mereka masih dikuasai oleh ketamakan. Mereka tidak berpikir bahwa Tuhan mengetahui niat seseorang melakukan sebuah tindakan.

Ingatlah mata Tuhan melihat niat dan apa pun juga tindakan kita; apakah benar-benar murni untuk sebuah pelayanan? Atau kita sedang membungkus ketamakan dan keinginan untuk dihormati dengan mengatasnamakan pelayanan? Kisah Ananias dan Safira memperlihatkan bahwa Tuhan tidak main-main dengan niat busuk. Tuhan juga menginginkan kita serius, tidak main-main dalam melayani-Nya. Alangkah indahnya kalau pasangan suami istri dengan tulus bahu-membahu melayani Tuhan.

REFLEKSI:

Mata Tuhan melihat hati kita.

Mzm. 86; 1 Sam. 15:10-31; Kis. 5:1-11

 

Sumber : Wasiat, 16 Januari 2018

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better