Rumah Tuhan

“Mengapa kamu tidak mendirikan bagi-Ku rumah dari kayu aras?”
(1Taw. 17:6)

 Kami pernah membawa belasan kardus buku ke sebuah kampung di Papua. Ada komik, Alkitab, dan buku ilmu pengetahuan. Letak kampung itu beberapa jam dari Sorong. Untuk mencapainya, kami berjalan kaki 3 jam lamanya. Mengejutkannya, sesampainya di sana, kami baru menyadari bahwa orang dewasa di kampung itu tidak bisa membaca dan menulis. Lalu, siapa yang akan membaca buku-buku yang kami bawa?

Sebagai raja yang kaya, Daud juga bertekad untuk membangun Bait Allah. Tanpa bertanya kepada Tuhan, Daud memutuskan untuk mendirikan Bait Allah sebagai persembahannya bagi Tuhan, apalagi karena Daud telah tinggal di istananya yang megah. “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut perjanjian TUHAN itu ada di bawah tenda-tenda” (ay. 1). Secara spontan, Nabi Natan memberkati niat Daud itu. Namun, ternyata Tuhan tidak mengizinkan Daud melakukannya. Bukan Daud yang dikehendaki Tuhan, melainkan Salomo, anaknya, yang akan mendirikan Bait Allah bagi Tuhan.

Kita bisa juga berpikir seperti Daud. Kita bangga dengan pemberian-pemberian kita atau pekerjaan kita bagi gereja dan dunia ini. Namun, mungkin kita lupa untuk bertanya lebih dahulu kepada Tuhan. Apa yang sesungguhnya Tuhan kehendaki agar kita lakukan dan berikan bagi pekerjaan pelayanan-Nya? Atau, apa yang ingin dikerjakan Tuhan melalui kita?

 

 

REFLEKSI:
Sebelum kita salah melangkah, lebih baik kita bertanya lebih dahulu kepada Tuhan.
Mzm. 95:1-7a; 1Taw. 17:1-15; Why. 22:1-9

Sumber : Wasiat, 24 November 2017

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better