DALAM SUKA MAUPUN DUKA

DALAM SUKA MAUPUN DUKA

Tetapi Mikha menjawab: “Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan TUHAN kepadaku, itulah yang akan kukatakan.”
(1Raj. 22:14) 

Dalam menghadapi sakit berat, orang biasanya bisa dibedakan menjadi dua tipe. Tipe pertama, orang yang ingin tahu secara detail penyakitnya. Tipe kedua, orang yang tidak ingin mengetahui diagnosa dokter yang buruk. Mereka hanya ingin mendengar berita yang baik saja dengan harapan tetap gembira sampai akhir hidupnya.

Tiga tahun lamanya Israel tinggal secara aman tanpa perang. Namun, kemudian, Raja Israel dan Raja Yehuda bersepakat untuk merebut kota Ramot-Gilead. Mereka lalu mencari seorang nabi Tuhan. Mereka ingin mengetahui apakah Tuhan memberkati niat mereka itu. Ternyata, Nabi Mikha justru memberitakan malapetaka bagi Israel. Padahal, risikonya besar jika orang berani memberitakan kabar buruk kepada raja, raja bisa marah dan menghukum orang itu (ay. 26-27). Namun, karena Nabi Mikha hanya takut kepada Tuhan, maka apa pun perkataan Tuhan akan disampaikannya.

Kita pun inginnya mendengar berita baik saja. Kita menyukai khotbah yang menghibur atau membesarkan hati. Namun, kadang kala Tuhan perlu menegur kita, menyatakan kesalahan kita demi memperbaiki kelakuan kita. Hal itu terjadi justru karena Tuhan mengasihi kita. Ia mau kita menjadi makin baik dan dekat dengan-Nya. Ia mau agar kita beriman dengan penuh kasih dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Sehingga saat kematian menjemput, kita kedapatan tetap setia kepada-Nya.

REFLEKSI:
Dalam segala keadaan, kita membutuhkan firman Tuhan
sebagai arahan bagi iman dan pengharapan hidup kita.
Mzm. 95:1-7a4; 1Raj. 22:13-23; Why. 14:1-11

Sumber : Wasiat, 23 November 2017